Zaman Edo (江戸時代 edo jidai) (1603 - 1867) adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sejak shogun pertama Tokugawa Ieyasu mendirikan Keshogunan Tokugawa di Edo yang berakhir dengan pemulihan kekuasaan kaisar (大政奉還 taisei hōkan) dari tangan shogun terakhir Tokugawa Yoshinobu
sekaligus mengakhiri kekuasan Keshogunan Tokugawa yang berlangsung
selama 264 tahun. Zaman Edo juga disebut sebagai awal zaman modern di
Jepang.
Zaman Edo
(1603 – 1867), merupakan zaman kematangan feodal militer di Jepang.
Kematangan ini ditandai dengan semakin sempurnanya sistem pengontrolan
masyarakat oleh rezim penguasa secara sistematis mulai dari struktur
pemerintahan, masyarakat, pemikiran, ekonomi, budaya, seni, pendidikan,
diplomasi, dan hukum.
Setelah Tokugawa Ieyasu mengalahkan para pengikut setia Toyotomi di pertempuran Sekigahara (Sekigahara no Tatakai) pada tahun 1600, ia diangkat menjadi shogun pada tahun 1603 dan mendirikan pemerintahan militernya di kota Edo (Edo Bakufu).
Kepemimpinan Ieyasu tidak berlangsung lama, ia memimpin bakufu selama
dua tahun (1603 – 1605). Kepemimpinan bakufu diteruskan oleh putranya
yang ketiga yaitu Tokugawa Hidetada. Secara resmi Ieyasu sudah
mengundurkan diri dari pemerintahan, namun ia tetap berada dibelakang
layar membantu putranya Hidetada sampai ia wafat pada tahun 1616.
Walaupun
keluarga Tokugawa telah menjadi pemimpin tunggal, masih terdapat
kekhawatiran suatu saat pengikut setia Toyotomi akan merebut kekuasaan.
Untuk mengantisipasi Tokugawa Ieyasu melancarkan serangan ke benteng
Osaka yang merupakan basis kekuatan pengikut Toyotomi yang masih tersisa
pada tahun 1614. Pada tahun 1615, Ieyasu berhasil menghancurkan
sisa-sisa keluarga Toyotomi, dengan demikian keluarga Tokugawa menjadi
pemimpin tunggal Jepang. Namun untuk mengantisipasi gerakan yang tidak
di inginkan dari para daimyo, khususnya daimyo yang setia kepada
Toyotomi, pemerintahan Tokugawa membagi daimyo menjadi tiga kelompok.
Daimyo yang merupakan keturunan Tokugawa termasuk kelompok Shimpan-daimyo. Daimyo yang merupakan pengikut setia Tokugawa disebut Fudai-daimyo. Sedangkan daimyo yang merupakan pengikut Toyotomi disebut Tozama-daimyo.
Pada tahun 1615, Tokugawa Ieyasu menetapkan peraturan Buke Shohatto yang mengatur para pengikutnya. Salah satu isi peraturan ini adalah “para
daimyo dilarang memperkuat kekuatan pasukannya, mendirikan benteng,
maupun memperbaiki benteng tanpa sepengetahuan pemerintah pusat
(bakufu)”. Cara lain yang dilakukan Tokugawa untuk mengendalikan
para daimyo adalah mengeluarkan kewajiban bagi para daimyo untuk datang
dan menetap di Edo selama beberapa waktu, yang dikenal dengan Sankin Kotai.
Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, para daimyō
beserta keluarga dan pengawalnya diwajibkan meninggalkan wilayahnya
untuk menetap di Edo selama satu tahun. Biasanya dari musim panas,
sampai musim panas tahun berikutnya, atau 4 bulan dalam satu tahun
secara bergantian dan kemudian kembali ke wilayahnya lagi. Tetapi ketika
ia kembali ke wilayahnya, keluarganya tetap tinggal untuk dijadikan
sandera di Edo.
Peraturan Sankin Kotai menugaskan Tozama Daimyo
di Edo untuk beberapa waktu, tetapi tidak memberi kegiatan atau
kesibukan di pemerintah pusat ini. Di kota Edo, para daimyo diberi
kebebasan untuk mengurus kegiatan pribadinya. Walaupun diberi kebebasan,
peraturan ini bertujuan untuk menjaga dan mengawasi keberadaan daimyo.
Perkembangan dari sankin kotai terlihat cukup nyata bagi bakufu,
karena para daimyo menghabiskan sebagian besar waktunya di kota Edo.
Sehingga perekonomian di kota Edo semakin kuat, sedangkan di setiap
wilayah harus menyediakan biaya perjalanan bagi daimyo dan para
pengikutnya, sehingga daimyo membebankan biaya ini kepada para petani
dengan pajak yang cukup tinggi.
Hirarki Sosial di Zaman Edo
Diperkirakan
pada zaman Edo jumlah kaum samurai kurang lebih 10% dari jumlah
penduduk Jepang saat itu. Namun, dalam jumlah yang kecil ini kaum
samurai harus mampu memerintah dan menguasai penduduk. Untuk itu
Tokugawa memberlakukan sebuah sistem hirarki sosial yang didasarkan Konfusianisme yang dikenal dengan shi-nō-kō-shō ( 士農工商 ), sehingga struktur masyarakat pada zaman ini terbagi menjadi dua, yaitu yang memerintah dan diperintah.
Dari istilah tersebut dapat dilihat kelas mana yang memiliki kedudukan
tinggi dan mana yang memiliki kedudukan rendah. Urutannya adalah
sebagai berikut :
1. Shi : bushi - 武士 (samurai)
2. Nō : nōmin - 農民 (petani)
3. Kō : kōsakunin - 工作人 (pengrajin)
4. Shō : shōnin - 商人 (pedagang)
Pembagian serta susunan kelas ini berdasarkan fungsi dari setiap kelas di dalam masyarakat. Bushi sebagai penguasa negara dengan sendirinya berada di tingkatan paling atas, kemudian kaum petani (nōmin)
dianggap sebagai kelas yang produktif yang merupakan tiang atau sumber
ekonomi negara dan menghasilkan bahan makanan, yaitu padi-padian dan
hasil ladang lainnya. Pengrajin (kōsakunin) merupakan kelas masyarakat yang memproduksi alat-alat kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kelas pedagang (shōnin)
dianggap memiliki status rendah, karena mereka hanya dapat memperoleh
keuntungan dari hasil yang telah diproduksi orang lain.
Pembagian
hirarki sosial ini tergantung pada pertimbangan kelahiran dan status
keturunan. Salah satu pemikiran konfusius yang diterapkan pemerintahan
Tokugawa adalah pemahaman terhadap hakekat takdir yang mengatakan,”manusia harus menerima takdir semenjak lahir. Tidak dapat menggugat takdir”
dengan adanya pemikiran ini, rakyat secara tidak langsung dipaksakan
untuk menerima keadaan serta status yang dimilikinya dan tidak dapat
mengusahakan kenaikan atau perbaikan statusnya ke tingkat yang lebih
tinggi. Pada kekuasaan shogun ke-3, Tokugawa Iemitsu, sistem
hirarki sosial ini semakin ketat dan diskriminasi antar kelas semakin
jelas. Hirarki sosial ini ditetapkan dengan tujuan tertentu, agar kelas
penguasa tetap dapat mempertahankan kedudukannya dan memiliki kekuatan
untuk menekan kelas yang berada di bawahnya. Susunan resmi yang
ditetapkan Tokugawa mengenai hirarki ini diperkuat dengan perbedaan
penampilan pakaian, tutur bahasa, etika, dan tata rambut serta
pemakaian jenis pedang bagi kelas samurai.
Selain kelas yang terdapat dalam sistem hirarki shi-nō-kō-shō, di dalam masyarakat feodal zaman Edo terdapat pula kelas masyarakat terendah yang disebut Eta – Hinin. Kelas ini dianggap sebagai masyarakat yang berasal dari keturunan orang-orang buangan.
Pembagian
kelas yang secara vertikal ini telah disusun secara ketat dan kaku oleh
pemerintah, namun sesungguhnya dalam setiap lapisan kelas itu sendiri
masih ada tingkatan-tingkatannya lagi. Tingkatan tersebut dipengaruhi
oleh jabatan, wewenang, kekuasaan, atau peranannya di dalam masyarakat
tersebut. Dengan demikian timbul hubungan antara atasan dan bawahan
yang di pengaruhi oleh ajaran Konfusianisme. Pada mulanya hubungan ini
hanya terdapat di dalam kelas samurai saja, tetapi kemudian hubungan “atasan dan bawahan” tersebut merata pula ke dalam masyarakat umum.
source: http://takashimakatsui.blogspot.co.id


0 komentar:
Posting Komentar